Yayasan Lentera Sehat Negeriku (YLSN) adalah organisasi berbasis masyarakat yang lahir dari inisiatif akar rumput di wilayah pesisir Pantai Utara Jawa Barat. Sebelum terbentuk secara formal, berbagai kelompok masyarakat di pesisir — khususnya petani mangrove dan komunitas nelayan — telah memulai kegiatan penanaman mangrove secara mandiri, sukarela, dan tanpa dukungan signifikan dari luar. Salah satu tonggak penting gerakan ini berakar di Desa Lamaran Tarung, Kabupaten Indramayu, di mana lahan timbul akibat abrasi telah berhasil direhabilitasi menjadi hutan mangrove yang kini menjadi habitat burung dan tempat berkembangnya populasi kepiting.

Kekuatan utama gerakan ini adalah kesadaran masyarakat akan urgensi krisis iklim, ancaman abrasi, dan pengalaman buruk dengan program konservasi dari luar yang bersifat sepihak dan tidak transparan. Dalam banyak kasus sebelumnya, masyarakat hanya dilibatkan sebagai buruh tanam tanpa akses terhadap informasi, keputusan, atau manfaat jangka panjang. Situasi ini mendorong terbentuknya struktur kelembagaan sendiri yang inklusif, adil, dan berbasis partisipasi penuh warga.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, para tokoh lokal dari berbagai desa pesisir — mulai dari latar belakang lingkungan, kesehatan masyarakat, pendidikan, hingga pemberdayaan perempuan — menyatukan gerakan mereka dalam satu wadah resmi bernama Yayasan Lentera Sehat Negeriku (YLSN). Yayasan ini berdiri secara sah melalui Akta Notaris Nomor 03 tanggal 20 Mei 2024, dan telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI dengan SK AHU-0013453.AH.01.04.Tahun 2025.

YLSN bukan hanya representasi satu desa, melainkan telah menjadi pilar utama bagi berbagai kelompok tani dan komunitas pesisir dari wilayah yang lebih luas di Pantura Jawa Barat — termasuk Indramayu, Subang, Cirebon, dan sekitarnya. Melalui koordinasi lintas wilayah, YLSN mendukung pengorganisasian kelompok-kelompok konservasi rakyat agar memiliki legalitas, kemampuan teknis, akses terhadap pendanaan, dan pengakuan kelembagaan dalam pengelolaan kawasan pesisir secara berkelanjutan. Dukungan pemerintah desa, Dinas Lingkungan Hidup, dan forum-forum musyawarah lokal juga memperkuat legitimasi sosial dan operasional yayasan. Setiap kegiatan — mulai dari pembibitan, penanaman, hingga monitoring — dilakukan dengan prinsip keterlibatan penuh masyarakat, transparansi, dan akuntabilitas.

Kini, YLSN menjadi motor penggerak restorasi ekosistem pesisir berbasis komunitas di wilayah Pantura Jawa Barat. Lebih dari sekadar program penanaman, ini adalah gerakan sosial untuk merebut kembali ruang kelola masyarakat, membangun sistem perlindungan iklim dari tapak, dan menciptakan sistem pangan lokal yang tangguh. YLSN secara strategis mengembangkan inisiatif ekonomi pesisir berkelanjutan melalui budidaya perikanan, usaha mikro hijau, dan diversifikasi pendapatan berbasis konservasi.

Dengan kombinasi pengalaman nyata, kekuatan kelembagaan masyarakat, serta arah strategis jangka panjang, YLSN memosisikan diri sebagai pionir dalam konservasi pesisir terpadu yang mampu direplikasi secara nasional, sambil memperjuangkan kedaulatan masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan ruang hidup mereka secara adil dan berkelanjutan.